Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Bangli-Mediaindonesianews.com: Potensi kopi arabika Kintamani untuk menembus pasar ekspor dinilai masih terkendala kapasitas produksi yang belum mampu memenuhi kebutuhan pembeli dari luar negeri. Kondisi tersebut menjadi tantangan utama meski kopi Kintamani telah dikenal luas dan memiliki sertifikat Indikasi Geografis (IG).
Anggota DPRD Bangli yang juga pelaku usaha kopi, Ida Bagus Made Santosa, mengatakan permintaan pasar internasional tidak hanya mensyaratkan kualitas produk, tetapi juga kuantitas dan kontinuitas pasokan.
"Untuk bisa menjalin kontrak ekspor, harus mampu memenuhi tiga aspek, yaitu kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Saat ini kapasitas produksi kopi Kintamani masih belum mencukupi kebutuhan importir," ujar Santosa di sela pelaksanaan Golkar Bali Cup Testers Championship di Kedai Kopi Lavista, Kintamani, Minggu (26/7).
Menurutnya, keterbatasan produksi menjadi faktor utama yang membuat pelaku usaha kopi di Kintamani belum mampu memenuhi permintaan pasar global dalam skala besar.
Karena itu, Santosa mendorong adanya perluasan areal tanam kopi (ekstensifikasi) yang diikuti dukungan pemerintah melalui penyediaan bibit unggul, akses permodalan, pendampingan budidaya, hingga penguatan penanganan pascapanen.
"Kehadiran pemerintah sangat diperlukan sebagai fasilitator agar produksi kopi meningkat tanpa mengabaikan kualitas," katanya.
Ia menjelaskan, kawasan Kintamani telah memiliki sertifikat Indikasi Geografis yang menunjukkan karakteristik khas kopi yang dihasilkan dari wilayah tersebut. Namun, menurutnya, mutu kopi juga dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari varietas, kondisi lahan, proses budidaya, penanganan pascapanen, hingga teknik pengolahan dan roasting.
Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor perkopian, Partai Golkar Bali menggelar Golkar Bali Cup Testers Championship. Kegiatan tersebut bertujuan mencetak cup tester atau penguji cita rasa kopi yang profesional sehingga mampu meningkatkan daya saing kopi Kintamani di pasar nasional maupun internasional.
Selain itu, Santosa berharap keberadaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dapat menjadi bagian dari penguatan ekosistem usaha kopi di Kintamani.
Menurutnya, koperasi dapat berperan dalam memfasilitasi petani dan pelaku usaha, mulai dari akses pembiayaan hingga pengelolaan hasil panen.
"Kami berharap KDMP dapat mendukung pengembangan kopi Kintamani, baik melalui permodalan maupun penanganan pascapanen, sehingga kapasitas dan kualitas produksi dapat terus meningkat," ujarnya.
Dengan peningkatan produksi yang didukung kualitas dan kontinuitas pasokan, Santosa optimistis peluang kopi Kintamani untuk menembus pasar ekspor akan semakin terbuka. Namun, hal tersebut memerlukan sinergi antara petani, pelaku usaha, koperasi, dan pemerintah agar pengembangan sektor perkopian dapat berjalan secara berkelanjutan.(JB)