Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Yogya-Mediaindonesianews.com: Transformasi Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) menjadi Politeknik Agraria STPN menandai perubahan arah pendidikan vokasi di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang. Perubahan kelembagaan tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan sumber daya manusia yang semakin kompleks seiring perkembangan teknologi dan tuntutan pelayanan pertanahan.
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid meresmikan Politeknik Agraria STPN dalam rangkaian wisuda 568 Taruna/i di Pendopo Sasana Widya Bhumi Politeknik Agraria STPN, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (5/9).
Peresmian ditandai dengan pemukulan gong oleh Menteri Nusron yang didampingi Wakil Menteri ATR/Wakil Kepala BPN Ossy Dermawan, Sekretaris Jenderal Dalu Agung Darmawan, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Agustyarsyah, serta Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN Sri Yanti Achmad.
Prosesi dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti dan penyerahan bendera Politeknik Agraria STPN dari Menteri ATR/Kepala BPN kepada Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN.
Nusron mengatakan, perubahan bentuk kelembagaan tersebut bukan sekadar pergantian nama, tetapi bagian dari upaya membangun sistem pendidikan vokasi yang lebih relevan dengan kebutuhan sektor agraria, pertanahan, dan tata ruang.
“Politeknik Agraria STPN merupakan satu-satunya perguruan tinggi vokasi di Indonesia yang bergerak secara khusus mengembangkan pendidikan bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang,” kata Nusron.
Menurutnya, STPN telah memiliki sejarah panjang dalam mencetak tenaga profesional yang kemudian bekerja di Kementerian ATR/BPN maupun sektor lainnya. Karena itu, transformasi kelembagaan dinilai penting untuk memperkuat kapasitas pendidikan sekaligus memastikan lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan lapangan.
“Proses transformasi yang selama beberapa tahun terakhir kita perjuangkan, saat ini sudah mencapai tahap akhir. Perubahan bentuk kelembagaan, penataan organisasi, pengembangan kurikulum vokasi, pembukaan program studi baru, sampai dengan penyelenggaraan pendidikan telah dilaksanakan dan berjalan dengan baik,” ujarnya.
Transformasi tersebut juga ditandai dengan pembukaan tiga program studi baru yang mulai diselenggarakan pada tahun akademik 2025/2026.
Ketiga program studi itu masing-masing Sarjana Terapan Manajemen Penataan Ruang dan Pertanahan, Sarjana Terapan Survei Pemetaan dan Informasi Pertanahan, serta Sarjana Terapan Kebijakan dan Manajemen Pendaftaran Tanah.
Ketiga program studi tersebut telah memperoleh akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Nusron menilai akreditasi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan transformasi Politeknik Agraria STPN berjalan tidak hanya secara kelembagaan, tetapi juga dari sisi kualitas akademik.
“Transformasi ini harus kita lihat sebagai proses untuk membuat pendidikan di Politeknik Agraria STPN semakin relevan dengan kebutuhan lapangan,” katanya.
Ia meminta pengembangan kurikulum dan sistem pembelajaran dilakukan secara adaptif. Menurutnya, persoalan pertanahan dan tata ruang ke depan akan semakin membutuhkan penguasaan teknologi, data, pemetaan, kebijakan publik, serta kemampuan manajerial.
Karena itu, Politeknik Agraria STPN diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga menjadi pusat pengembangan gagasan dan inovasi di bidang agraria.
“Kementerian ATR/BPN akan terus memberikan dukungan terhadap penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penyediaan sarana dan prasarana, serta pembiayaan yang diperlukan untuk memperkuat Politeknik Agraria STPN,” ujar Nusron.
Tiga Program Studi Jadi Penanda Transformasi
Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN Sri Yanti Achmad mengatakan perubahan kelembagaan tersebut merupakan hasil proses panjang yang melibatkan seluruh civitas academica.
Menurut Sri Yanti, salah satu wujud konkret transformasi adalah pembukaan tiga program studi baru yang dirancang untuk memperkuat kompetensi lulusan dalam menghadapi kebutuhan sektor pertanahan dan tata ruang.
“Peresmian Politeknik Agraria STPN yang dirangkaikan dengan wisuda perdana ini menjadi momentum penting yang menandai babak baru dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi vokasi serta menguatkan peran Politeknik Agraria STPN dalam menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan profesional di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang,” kata Sri Yanti.
Ia menyebut pengembangan program studi tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Politeknik Agraria STPN untuk memperluas pengembangan keilmuan dan kompetensi di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang, serta memenuhi amanat Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2022.
Perubahan menjadi politeknik diharapkan membuat pola pendidikan semakin berorientasi pada kompetensi praktis dan kebutuhan dunia kerja. Dengan demikian, lulusan tidak hanya memiliki penguasaan teori, tetapi juga kemampuan teknis dan profesional yang dapat diterapkan dalam penyelenggaraan pertanahan dan tata ruang.
Dalam kesempatan tersebut, Politeknik Agraria STPN juga memberikan penghargaan kepada Kepala Pusat Penilaian Kompetensi BPSDM Heri Mulianto sebagai pencipta Hymne Politeknik Agraria STPN.
Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Sekretaris Daerah Provinsi D.I. Yogyakarta, serta Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi se-Indonesia beserta jajaran. (red)