bendera

Jumat, 03 Juli 2026    22:33 WIB
MEDIA INDONESIA NEWS

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

OPINI
 


Investasi Berkelanjutan Dalam Kerangka Omnibus Law


tim red,    31 Januari 2022,    00:54 WIB

Investasi Berkelanjutan Dalam Kerangka Omnibus Law
Fadhil Muhammad

Oleh: Fadhil Muhammad


Mediaindonesianews.com: Pemerintah melalui Kementerian Keuangan telah menggelontorkan dana Pemulihan Ekonomi Nasioanl (PEN) untuk memulihkan sektor industri dan usaha akibat Covid-19. Namun sayangnya upaya di atas belum maksimal disebabkan rendahnya penyerapan anggaran, program yang dilakukan tidak tepat sasaran hingga korupsi.

Setidaknya dibutuhkan beberapa tahun untuk memulihkan perekonomian nasional. Baru-baru ini, Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan uji materi terhadap Undang Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Omnibus Law).

Omnibus Law diproyeksikan menjadi payung hukum dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Namun, jika ditelaah kembali, Omnibus Law ini serta menciptakan ekosistem usaha dan investasi yang tidak berkelanjutan.


Dalam Omnibus Law, pemerintah daerah kehilangan kewenangannya dalam menerbitkan izin usaha. Padahal pemerintah daerah yang lebih mengetahui potensi ekonomi di daerahnya.

Absennya pemerintah daerah juga memicu konflik antara pemilik usaha (investor) dan masyarakat setempat. Sistem birokrasi seperti ini juga dapat menghambat sinkronisasi kebijakan dan tumpang tindih aturan antara pemerintah pusat dan daerah. Hal ini berimbas pada ketidak pastian dalam menjalankan usaha.

Omnibus Law juga tidak memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Penghapusan Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) pada usaha yang berhubungan langsung dengan lingkungan dapat meningkatkan risiko kerusakan lingkungan.

Kemudian jaminan terhadap upah layak bagi buruh juga diabaikan. Padahal buruh adalah penyangga utama yang menggerakkan sektor industri. Jika buruh tidak sejahtera, berbagai aksi yang justru akan mengganggu stabilitas rantai pasok tidak dapat dihindari.

Dengan disahkannya uji materi terhadap Omnibus Law, saya rasa ada peluang memperbaiki kerangka regulasi tersebut untuk menciptakan ekosistem investasi berkelanjutan.

Investasi berkelanjutan merupakan bentuk dukungan secara finansial kepada perusahaan yang aktivitas usahanya memperhatikan aspek lingkungan (environment), sosial (social) dan tata kelola (governance) yang baik.

Aspek lingkungan meliputi pengelolaan emisi karbon, menjaga keanekaragaman hayati, konservasi energi dan pengelolaan sampah, polusi atau limbah.

Selanjutnya, aspek sosial meliputi aksesibilitas terhadap penyandang disabilitas, kesetaraan gender, upah layak bagi karyawan, dan memperhatikan hak-hak konsumen.

Sementara itu, aspek tata kelola yang baik meliputi independensi dewan direksi dan komisaris, transparansi informasi kepada para stakeholder, akuntabilitas karyawan, bertanggung jawab atas tindakan perusahaan dan memperhatikan hak para stakeholder secara adil.

Aspek-aspek investasi berkelanjutan tersebut merupakan langkah pemerintah untuk menjamin kepastian usaha serta meminimalisir risiko yang akan terjadi di kemudian hari.

Risiko tersebut dapat berupa kerusakan lingkungan yang tentunya membutuhkan biaya penanganan yang lebih besar, gesekan antara masyarat dengan investor ataupun aksi protes buruh yang menuntut upah layak.

Selain itu, ini juga bentuk dari tanggung jawab untuk mengurangi risiko perubahan iklim. Apalagi pemerintah Indonesia berkomitmen mengurangi emisi karbon sebanyak 29% hingga 41% pada COP26 di Glasgow beberapa bulan lalu.

Hal ini perlu diperhatikan dalam revisi Omnibus Law agar menjadi payung hukum untuk menciptakan iklim investasi yang ramah lingkungan dan saling menguntungkan semua pihak. Investor diuntungkan karena mendapat kepastian usaha, gesekan konflik antara buruh dan perusahaan semakin kecil dan produktivitas akan meningkat.

Pemerintah juga dapat mengurangi angka pengangguran, meningkatkan daya beli, dan perusahaan dapat membayar pajaknya yang menjadi pendapatan pemerintah.

Tidak lupa, para pekerja pun akan mendapat upah yang layak, kesejahteraan meningkat, lingkungan terhindar dari kerusakan. Dan yang terpenting kesehatan masyarakat terjaga dari polusi udara yang berasal dari aktivitas industri.

 

Penulis Alumni Fakultas Ekonomi UIN Malang


banner
NASIONAL
img
Jumat, 03 Juli 2026
Jakarta-Mediaindonesianews.com: Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menargetkan 87 persen Lahan Baku Sawah (LBS) nasional ditetapkan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) pada 2029. Target tersebut
img
Jumat, 03 Juli 2026
Cikeas-Mediaindonesianews.com: Politeknik Agraria STPN, perguruan tinggi di bawah naungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), menggelar Seleksi Penerimaan Taruna Baru (SPTB) Tahun Akademik 2026/2027 untuk menjaring
img
Kamis, 02 Juli 2026
Serpong - Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto didampingi Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi R. memimpin Uji Naskah III dan Pengesahan Doktrin TNI Perisai Trisula Nusantara yang diikuti
img
Kamis, 02 Juli 2026
Jakarta-Mediaindonesianews.com: Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mencatat rata-rata 8,4 juta layanan pertanahan diproses setiap tahun dalam lima tahun terakhir, dengan rata-rata Penerimaan Negara Bukan Pajak
img
Kamis, 02 Juli 2026
Jakarta-Mediaindonesianews.com: Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) melaporkan capaian pelaksanaan tujuh layanan prioritas yang menjadi fokus transformasi pelayanan pertanahan dan tata ruang dalam Rapat Dengar Pendapat
img
Rabu, 01 Juli 2026
Bogor - Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menghadiri Upacara Peringatan HUT Ke-80 Bhayangkara Tahun 2026 yang dipimpin Presiden RI Prabowo Subianto selaku Inspektur Upacara di Lapangan Satuan Latihan Korps

MEDIA INDONESIA NEWS