Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Bangli-Mediaindonesianews.com: Kasus wisatawan mancanegara (WNA) asal China yang menjadi korban gigitan anjing yang diduga terpapar virus rabies mendapat perhatian serius DPRD Kabupaten Bangli. Kasus tersebut dinilai berpotensi mengganggu citra pariwisata Bangli yang selama ini menjadi salah satu penopang pendapatan asli daerah (PAD).
Ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika mengatakan isu rabies sangat sensitif bagi dunia pariwisata. Karena itu, kasus yang menimpa wisatawan asing tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah agar tidak berkembang menjadi persepsi bahwa Bangli merupakan daerah yang tidak aman untuk dikunjungi wisatawan.
“Justru yang kami takutkan dari kasus ini akan berkembang yang berujung kalau Bangli tidak layak dikunjungi karena ancaman rabies,” ujar Ketut Suastika, Selasa (14/7).
Politisi PDI Perjuangan tersebut berharap kasus tersebut tidak sampai memicu dikeluarkannya peringatan perjalanan atau travel warning dari negara tertentu kepada wisatawan yang hendak berkunjung ke Bangli.
Menurutnya, jika sampai ada negara yang mengeluarkan peringatan perjalanan akibat persoalan rabies, kondisi tersebut dapat menjadi preseden buruk bagi keberlangsungan industri pariwisata Bangli.
“Untuk itu, mudah-mudahan dari kasus ini tidak sampai sebuah negara mengeluarkan peringatan perjalanan (travel warning) ke Bangli. Jika sampai hal tersebut terjadi, jelas akan menjadi peringatan bagi keberlangsungan dunia pariwisata Bangli,” katanya.
Suastika menegaskan pemerintah daerah perlu mengambil langkah serius dan terukur untuk mencegah kasus rabies kembali terjadi. Penanganan rabies, kata dia, tidak boleh hanya dilakukan secara intensif ketika kasus sudah muncul.
Ia menyebut penanganan hewan penular rabies (HPR), khususnya anjing, harus dilakukan secara berkelanjutan oleh instansi terkait, dalam hal ini Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli.
Menurut Suastika, program vaksinasi dan eliminasi HPR perlu ditingkatkan dan dilakukan secara konsisten untuk menekan risiko penyebaran rabies.
“Dalam upaya mengantisipasi penyebaran rabies, vaksinasi dan eliminasi perlu ditingkatkan. Jangan sampai kegiatan tersebut terkesan hangat-hangat tahi ayam, yang mana vaksinasi dan eliminasi digencarkan ketika terjadi kasus,” tegasnya.
Ia menilai pencegahan harus menjadi prioritas karena rabies tidak hanya menyangkut persoalan kesehatan masyarakat, tetapi juga berkaitan langsung dengan keamanan dan kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke Bangli.
Selain penguatan pencegahan terhadap HPR, Suastika juga meminta ketersediaan Vaksin Anti Rabies (VAR) diperkuat di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di RSUD Bangli.
Menurut dia, RSUD Bangli sebagai rumah sakit rujukan dan sentral pelayanan kesehatan di daerah seharusnya memiliki ketersediaan VAR sehingga masyarakat maupun wisatawan yang mengalami gigitan hewan berisiko rabies dapat segera memperoleh penanganan.
“Memang sejauh ini untuk VAR hanya tersedia di beberapa Puskesmas, namun alangkah baiknya RSUD sebagai sentral pelayanan juga menyediakan VAR,” ujarnya.
Suastika menyoroti pengalaman WNA yang disebut tidak mendapatkan VAR di RSUD Bangli. Kondisi tersebut, menurutnya, harus menjadi bahan evaluasi karena dapat memengaruhi persepsi wisatawan terhadap kesiapan pelayanan kesehatan di daerah tujuan wisata.
“Berkaca dari WNA yang tidak dapat VAR di RSUD Bangli tentu akan menjadi preseden buruk di mata wisatawan,” sebutnya.
Ia berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari pengendalian populasi HPR, vaksinasi rabies, kesiapan fasilitas kesehatan, hingga ketersediaan VAR.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan Bangli tetap menjadi destinasi wisata yang aman dan nyaman sekaligus menjaga kepercayaan wisatawan terhadap sektor pariwisata daerah.(JB)