bendera

Senin, 06 April 2026    13:02 WIB
MEDIA INDONESIA NEWS

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

BREAKING NEWS
 


Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka, Prof Didin: Ketimpangan Ekonomi Terburuk, Indonesia Tertinggal Jauh


Tim Red,    03 Agustus 2025,    14:55 WIB

Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka, Prof Didin: Ketimpangan Ekonomi Terburuk, Indonesia Tertinggal Jauh
Istimewa

Jakarta-Mediaindonesianews.com: Menjelang peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Pribumi Indonesia (Asprindo), Prof Didin Damanhuri, mengungkapkan kondisi ekonomi nasional yang dinilainya berada dalam situasi memprihatinkan. Ia menegaskan bahwa Indonesia mengalami ketertinggalan signifikan dibandingkan negara-negara yang dulu memiliki level pembangunan serupa.


Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka, Prof Didin: Ketimpangan Ekonomi Terburuk, Indonesia Tertinggal Jauh

"Negara-negara seperti Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand yang di tahun 1970-an sejajar dengan Indonesia, kini jauh melampaui kita. Korea Selatan memiliki PDB per kapita Rp30 ribu, Malaysia Rp14 ribu, dan Thailand Rp8 ribu. Sementara Indonesia masih Rp5 ribu," ujar Prof Didin dalam diskusi ekonomi, Minggu (3/8/2025).

Ia menekankan bahwa meskipun Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita bukan satu-satunya tolok ukur kesejahteraan, namun tetap menjadi indikator awal yang penting dalam menilai kemajuan suatu bangsa.

Lebih lanjut, Prof Didin menyampaikan bahwa Indonesia juga mengalami ketimpangan ekonomi yang sangat mencolok. Mengutip indeks oligarki Jeffrey Winters, ia menyebut bahwa sejak 2014 Indonesia menempati peringkat kedua terburuk di dunia, dan saat ini kemungkinan menjadi yang terburuk.


Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka, Prof Didin: Ketimpangan Ekonomi Terburuk, Indonesia Tertinggal Jauh

"Berdasarkan buku Oligarchy karya Winters, kekayaan 40 orang terkaya Indonesia tahun 2024 mencapai 1.056.000 kali lipat dari rata-rata pendapatan penduduk. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang hanya sekitar 20.000 kali lipat," jelasnya.

Ketimpangan tersebut, menurutnya, memperlihatkan konsentrasi kekayaan yang menciptakan konsentrasi kekuasaan. Hal ini turut memperparah struktur ekonomi yang dinilai tidak inklusif.

Ia juga menyoroti siapa yang sebenarnya menikmati pertumbuhan ekonomi Indonesia yang secara rata-rata mencapai 5 persen sejak era reformasi.

"Pertumbuhan ini hanya dinikmati segelintir orang, yang disebut sebagai oligarki. Data Credit Suisse tahun 2003 mencatat kekayaan empat orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 100 juta rakyat Indonesia. Sekarang mungkin lebih buruk," ujarnya.

Prof Didin juga menyinggung persoalan penurunan daya beli masyarakat bawah, yang terlihat dari nilai tukar petani dan nelayan yang berada di bawah angka 100. Gini ratio Indonesia yang berada di angka 0,4, menurutnya mencerminkan ketimpangan serius.

"Data World Bank menunjukkan bahwa hampir 40 persen penduduk Indonesia hidup dengan pengeluaran kurang dari 2 dolar per hari. Jauh dari klaim resmi yang menyebut hanya 9 persen. Jika dihitung berdasarkan paritas daya beli, tiga per empat penduduk Indonesia sebenarnya berada di bawah garis kemiskinan," paparnya.

Ia juga membandingkan situasi ini dengan masa pemerintahan Presiden Soeharto, yang menurutnya lebih menjamin stabilitas harga kebutuhan pokok dan memiliki strategi pangan yang terarah.

"Sejak swasembada pangan tahun 1984 hingga akhir masa jabatannya, kebutuhan pokok rakyat dijamin. Pertumbuhan ekonomi pernah menyentuh angka 7,5 hingga 8 persen. Pascareformasi, hanya satu-dua tahun ada kebijakan serupa, seperti di era Menteri Pertanian Anton Apriantono. Setelah itu hilang,” jelasnya.

Refleksi ini menjadi pengingat keras bahwa dalam usia 80 tahun kemerdekaannya, Indonesia masih harus berjuang keras untuk mewujudkan keadilan ekonomi yang sesungguhnya.***


banner
NASIONAL
img
Jumat, 03 April 2026
Lebanon - United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) menyelenggarakan upacara Memorial Service sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang gugur dalam misi perdamaian dunia di
img
Jumat, 03 April 2026
Jakarta - Dalam rangka mempererat kemitraan strategis dan diplomasi militer antara Indonesia - Malaysia, Panglima TNI, Jenderal TNI Agus Subiyanto menerima Courtesy Call Panglima Angkatan Tentera Malaysia (ATM), Jeneral Datuk
img
Jumat, 03 April 2026
Jakarta - Ketua Umum Dharma Pertiwi dan Ibu Asuh Wanita TNI Ny. Evi Agus Subiyanto memimpin langsung kegiatan donor darah serentak dalam rangka Apel Bersama Wanita TNI dan peringatan HUT
img
Kamis, 02 April 2026
Sulut - Reaksi cepat TNI ditunjukkan dengan segera mengerahkan prajurit pasca gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Provinsi Sulawesi Utara pada Kamis (2/4/2026). Melalui prajurit Kodam XIII/Merdeka, TNI
img
Kamis, 02 April 2026
Sumut-Mediaindonesianews.com: Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Ossy Dermawan, menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan kawasan Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2) di
img
Kamis, 02 April 2026
Palu-Mediaindonesianews.com: Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menegaskan pembatasan alih fungsi lahan sawah sebagai langkah strategis menjaga ketahanan pangan nasional di tengah ketidakpastian

MEDIA INDONESIA NEWS