Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Jakarta-Mediaindonesianews.com: Komunitas Millenial Indonesia Aceh–Jakarta menggelar diskusi bertajuk “Alam Peudeung Sebagai Penjaga Marwah: Mengaktualisasi Alam Peudeung di Masa Kini” pada Sabtu (2/5) di Dirga Coffee Cilandak. Forum ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan legislator, akademisi, hingga tokoh muda untuk membahas nilai kepemimpinan dan identitas budaya Aceh di tengah tantangan globalisasi.
Anggota DPD RI, Sudirman H. Uma, dalam pemaparannya menegaskan bahwa Aceh memiliki rekam jejak panjang dalam hubungan internasional, baik dalam perdagangan maupun budaya dengan berbagai negara seperti Turki, Arab Saudi, Tiongkok, dan India.
“Aceh dikenal luas hingga mancanegara, namun masyarakatnya tidak pernah menggadaikan identitas. Penurunan nilai hari ini bukan karena budaya, melainkan sikap yang tidak lagi menghargai budaya sendiri,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kepemimpinan berintegritas yang mampu menjadi teladan, tegas dalam pengambilan keputusan, serta mengedepankan kepentingan masyarakat. Menurutnya, pemimpin harus inklusif, menjaga ukhuwah, serta memiliki kepekaan sosial.
Sudirman juga mengingatkan peran strategis generasi muda dalam menjaga marwah Aceh di tengah arus globalisasi. Ia menilai kolaborasi dalam menjaga budaya, bahasa, ritual, dan seni menjadi kunci mempertahankan identitas daerah.
Sementara itu, akademisi Adli Abdullah menjelaskan bahwa simbol Alam Peudeung mencerminkan kedaulatan dan keberanian masyarakat Aceh. Ia menyoroti hubungan historis Aceh dengan Kesultanan Turki Usmani sebagai bukti kuatnya identitas dan posisi Aceh di masa lalu.
“Alam Peudeung bukan sekadar simbol sejarah, tetapi juga representasi semangat yang harus terus hidup. Kita tidak cukup hanya bangga pada masa lalu, tetapi harus mampu menata masa depan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kekuasaan tanpa marwah akan kehilangan legitimasi, integritas, serta keberpihakan kepada rakyat.
Tokoh muda Aceh, Muhammad Rafsanjani, menyoroti tantangan kekinian berupa degradasi budaya dan lemahnya kemampuan menyaring pengaruh luar, khususnya di tengah masyarakat Aceh yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Menurutnya, langkah strategis yang perlu ditempuh meliputi penguatan karakter generasi muda, peningkatan kapasitas ekonomi, pelestarian sejarah, serta pengembangan literasi digital.
“Semangat kebangsaan dan pengabdian harus terus tumbuh. Kita harus bangga menjadi orang Aceh,” ujarnya.
Ketua Umum Millenial Indonesia, Sureza Sulaiman, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Aceh merupakan simpul penting peradaban dunia. Ia menilai diskusi tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan wawasan bagi generasi muda.
“Belajar Aceh sama dengan belajar sejarah dunia. Dari sana kita memahami betapa kuatnya bangsa ini ketika bersatu, dan sebaliknya, perpecahan justru melemahkan,” katanya.
Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran generasi muda dalam menjaga identitas budaya sekaligus mempererat semangat persatuan di tengah dinamika global yang terus berkembang. (FF)