Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Sabang – Mediaindonesianews.com: Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Jose Rizal, menyebut kawasan Sabang memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi hub industri berskala global, bahkan dinilai lebih strategis dibanding Singapura dalam konteks jalur perdagangan Selat Malaka.
Menurut Jose, pengembangan Sabang dapat menjadi kunci peningkatan pendapatan negara sekaligus menekan impor bahan bakar minyak (BBM) dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Namun, ia menekankan bahwa keunggulan geografis saja tidak cukup tanpa dukungan infrastruktur dan ekosistem ekonomi yang memadai.
“Secara geopolitik, posisi Sabang lebih ‘depan’ dari Singapura untuk Selat Malaka. Tapi keunggulan lokasi saja tidak cukup kalau infrastruktur dan ekosistemnya belum siap, termasuk kecukupan energi,” ujar Jose dalam keterangan tertulisnya kepada awak media, Senin (20/4)
Ia menjelaskan, secara geografis Sabang berada di ujung barat Indonesia dan langsung berhadapan dengan Samudera Hindia, berbeda dengan Singapura yang berada sekitar 50 kilometer masuk ke dalam Selat Malaka. Selain itu, kedalaman perairan Sabang yang mencapai 20 hingga 40 meter memungkinkan kapal berkapasitas hingga 300 ribu DWT bersandar tanpa pengerukan rutin.
Meski demikian, Jose mengakui Singapura masih unggul dalam hal stabilitas regulasi dan kepastian hukum yang menjadi faktor utama bagi investor. “Singapura memiliki aturan yang stabil, risiko kecil, serta didukung industri keuangan, fasilitas pelabuhan, dan SDM yang kuat. Ini yang belum dimiliki Sabang,” katanya.
Jose menegaskan, Sabang tidak perlu meniru Singapura secara langsung. Ia menyarankan agar Sabang fokus pada ceruk pasar yang belum digarap Singapura.
“Sabang harus melakukan spesialisasi, bukan head-to-head. Jadilah pelengkap Singapura. Target realistis, dalam 5 hingga 10 tahun bisa mengambil 20 persen trafik Singapura,” ujarnya.
Beberapa peluang yang dapat dikembangkan di Sabang antara lain sebagai pusat bunker dan logistik kapal perikanan, mengingat sekitar 3.000 kapal ikan asing melintasi Selat Malaka. Selain itu, Sabang juga berpotensi menjadi hub kapal pesiar halal untuk wisatawan Timur Tengah, serta pusat transshipment komoditas seperti semen, batu bara, dan crude palm oil (CPO).
Tak hanya sektor ekonomi, Sabang juga dinilai strategis untuk pengembangan pangkalan militer dan SAR guna memperkuat pengamanan Selat Malaka melalui kerja sama internasional.
Untuk menarik investasi, Jose menekankan pentingnya kepastian hukum jangka panjang melalui regulasi khusus bagi Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS). Ia menilai aturan tidak boleh berubah-ubah seiring pergantian kepemimpinan daerah.
“Investor butuh kepastian. BPKS, Pemko Sabang, Kemenhub, dan Pelindo harus berada dalam satu komando,” tegasnya.
Selain itu, ketersediaan energi listrik dan jaringan internet berkecepatan tinggi juga menjadi prasyarat utama. Jose menyebut pengembangan energi panas bumi (geothermal) di Aceh sebagai solusi potensial untuk mendukung kebutuhan listrik kawasan industri.
Ia menyinggung proyek geothermal Seulawah yang telah lama dipercayakan kepada Pertamina namun belum terealisasi secara optimal.
“Kalau pemerintah serius seperti pengembangan pelabuhan di Singapura, dalam 10 tahun Sabang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan mengurangi impor minyak,” katanya.
Sebagai penutup, Jose mengibaratkan Sabang sebagai lahan strategis di jalur tersibuk dunia yang belum dimanfaatkan optimal.
“Sabang itu seperti tanah di pinggir jalan tol paling ramai di dunia. Tapi kalau tidak ada fasilitas dan keamanan, kendaraan akan memilih lewat jalur lain,” pungkasnya.***